Ketidak Sempurnaan Manusia

Setiap manusia pasti mempunyai kekurangan, karena pada hakikatnya manusia tidak ada yang sempurna, hal itu berpotensi manusia melakukan kesalahan. Disadari atau tidak dan di akui atau tidak manusia pasti terjerumus pada jurang kesalahan.

Kesalahan manusia ada yang sifatnya di sadari (internal kontrol) dan ada yang sifatnya tidak di sadari (eksternal kontrol). Jika kesalahan itu tidak di sadari perlu kita maklumi, karena itu bersifat manusiawi. Tapi jika manusia itu melakukan kesalahan di sadari atau di sengaja, maka kita sebagai saudara harus menasehati.

Namun, manusia yang melakukan kesalahan di luar kesadarannya bukan berarti kita biarkan, kita tetap harus memberitahu dan menasehatinya. Prihal mau atau tidak, di luar kendali kita. Dalam Filosofi Stoikisme, ada sebuah teori mengenai dikotomi kendali, yang dimaksudkan di sini, segala sesuatu dalam hidup dibagi menjadi dua, yaitu: “Hal yang ada dalam kendali kita, dan hal yang di luar kendali kita.”

Permasalahan yang ada jangan kita biarkan, karena membiarkan kesalahan adalah salah satu perbuatan yang tidak di benarkan dalam agama. Agama menganjurkan kita untuk meluruskan kesalahan dan melarang kemungkaran.

Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa yang melihat kemungkaran hendaklah meluruskannya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup (hendaklah meluruskan) dengan lisannya, jika tidak sanggup (hendaklah dia meluruskan) dengan hatinya dan ini adalah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim 49).

Dalam artian, kita sebagai sesama bahkan saudara, harus saling mengingatkan satu sama lain. Sekecil apapun kesalahannya. Karena membiarkan kesalahan yang kecil sama halnya kita membiarkan kesalahan itu menjadi besar.

Dalam kitab Naishoihul Ibad, Hukama menyatakan “Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena dari situlah bersemi dosa-dosa besar.”Di samping itu, kadang-kadang kemurkaan Allah SWT. Timbul karena dosa-dosa yang kecil.

Di kitab yang sama Nabi Mohammad Saw. bersabda:”Dosa kecil tidaklah dipandang kecil jika terus-menerus dilakukan dan dosa besar tidak dipandang besar jika disertai memohon ampunan.”

Dosa kecil yang terus-menerus dilakukan akan menumpuk menjadi dosa besar, dengan adanya kehendak untuk melakukan terus-menerus, berarti suatu dosa telah membesar karena niat melakukan maksiat itu merupakan perbuatan maksiat tersendiri. Begitulah pernyataan Hukama dan sabda Nabi jika kita membiarkan dosa kecil.

Pernyataan Hukama dan Sabda Nabi itu mengajurkan kita untuk tidak membiarkan suatu kesalahan, meskipun itu kecil. Tapi tindakan kita untuk meluruskan harus dengan cara lemah lembut, tidak memusuhi apalagi membuka kesalahannya kepada orang lain yang tidak mengetahui sebelumnya. Karena hal itu berpotensi untuk orang lain tidak menyukainya. Ujung-ujungnya bukan mendekati agar memberikan nasehat tapi menjauhi karena membencinya, sehingga lupa dengan kebaikan yang pernah dilakukannya.

Maka kita sebagai saudara, penting rasanya untuk meluruskan yang salah, tidak membicarakan kesalahan itu kepada orang yang tidak tepat, tidak menjahui karena tindakannya salah, dan yang paling penting adalah menasehati dengan komunikasi yang bijak. Jika tidak bisa, minimal kita jangan tampakkan ketidaksukaan kita kepada orang lain yang berpotensi mengikuti.

Tutuplah aib orang lain sebagaimana kamu menutupi aibmu kepada orang lain..!!

Penulis: Salim

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *